Happy 22nd Anniversary

Special Moment • August 25, 2008

pasangan-muda001.jpg

Tidak terasa, hari ini 25 Agustus 2008, usia pernikahan kami (Herri dan Nana) sudah berlangsung selama 22 tahun. Banyak suka dan duka telah kami jalani bersama, baik selama berdua maupun setelah memiliki tiga orang anak (Prima, Reyhan, dan Almira). Mudah-mudahan untuk hari-hari kedepan kami semua tetap dapat menjalaninya dalam kebahagian dibawah naungan kasih sayang Allah SWT. Amin.

kado-mam.jpg Sebagai tanda sayangnya, pada hari bahagia ini Nana memberikan bingkisan untuk Herri yang diseertai ucapan: “25 Agustus 1986 Kel. Zulfan Herri terbentuk, dalam perjalanan cinta lahirlah 3 orang putra/putri yang tumbuh menjadi anak yang ganteng dan cantik, pintar… Papa… 22 tahun sudah kita bersama dalam cinta, begitu kuat akar cinta kita sudah tertanam… yang insyaAllah begitu selamanya… 22 tahun adalah perjalanan cinta yang sudah dewasa dan dengan kekuatan cinta kita bisa melewatinya. Papa… I love you….Papa … Semoga keluarga kita selalu bahagia dan diberi hidayah dan rahmat dalam menjalaninya. Kita jalani bersama dengan cinta ya Pa. InsyaAllah tercapai cita-cita kita. Amin.
Yang selalu menyayangi; Mama”.

us-dollar.jpg

Sementara Herri, karena kesibukannya, untuk pertama kalinya terlupa menyiapkan bingkisan untuk Nana. Sebagai gantinya, Herri mentransfer sejumlah uang ke tabungan Nana. Kurang romantis memang, tapi dari pada tidak sama sekali he…he…



Lencana Melati untuk Gubri, Lencana Dharma Bakti untuk Herri

Daily • August 18, 2008

lencana-dharma-bakti.jpgHari ini, 18 Agustus 2008, Zulfan Herri selaku anggota Mabida Pramuka Riau, bersama 17 orang Pembina/Pengurus Kwarda Pramuka Riau lainnya, menerima penghargaan Lencana Dharma Bakti dari Kwartir Nasional yang disematkan oleh Gubernur Riau (Gubri) Bapak Wan Abubakar MS pada Acara Apel Besar Pramuka yang berlangsung di halaman Kantor Gubernur Riau.

lencana-melati.jpgSementara itu, pada tanggal 14 Agustus 2008 yang lalu, Gubernur Riau (Gubri) Bapak Wan Abubakar MS, bersama beberapa orang Gubernur dari Provinsi lainnya se Indonesia, menerima Lencana Melati dari Kwartir Nasional yang diserahkan langsung oleh Presiden RI Bapak Soesilo Bambang Yoedoyono dalam puncak peringatan Hari Pramuka ke-47 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.



Mira’s 16th Birthday

Special Moment • August 10, 2008

Hari ini Mira genap berusia 16 tahun (akan dilanjutkan…)

Kalau zaman dulu, untuk usia Mira saat ini, kue taartnya akan dihiasi oleh 16 buah lilin, so… berikut lagu dari Papa untuk ananda Mira; Sixteen Candles

sixteen candles - paul anka



KUNGFU PANDA

Daily • July 12, 2008

kungfu-panda-po.jpg

Po, si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar Kung Fu. Tak disangka, dalam suatu kompetisi, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yang dinanti-nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung. Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal:

1. The secret to be special is you have to believe you’re special.

Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong .
Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan
memandang positif dirinya sendiri.
Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial. Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa. Seperti kata Master Oogway, You just need to believe

2. Teruslah kejar impianmu.

Po, panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri?
Seperti kata Master Oogway, Kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut Present (hadiah).
Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.

3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.

Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po. Ia memandang Po tidak berbakat.
Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu satu-satunya orang yang mampu melatihnya.
Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah. Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.

4. Tiap individu belajar dengan caranya sendiri dan motivasinya sendiri.

Shi Fu akhirnya menemukan bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain.
Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan..

5. Kebanggaan berlebihan atas anak/ murid/ diri sendiri, bisa membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang salah.

Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.
Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu.
Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan ahli-ahli di bidang autistik.
Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru.

6. Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu.

Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya.
Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.

7. Keluarga sangatlah penting.

Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu.

Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita?

Catatan: Tulisan ini adalah sharing dari Ibu Ratna Pangemanan; seorang sahabat yang rajin sharing email kepada sesama Anggota IOM-ITB.



Jabatan Baru

Special Moment • June 27, 2008

pelantikan-direktur-rsj.jpg

Sudah beberapa kali memangku jabatan Eselon II.b di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau (sebagai: Wakil Kepala Dinas pada Dinas Transmigrasi dan Kependudukan, Wakil Kepala Dinas pada Dinas Kesehatan, dan Wakil Direktur Umum dan Keuangan pada RSUD Arifin Achmad Pekanbaru), akhirnya pada hari ini Jum’at 27 Juni 2008 Zulfan Herri dipromosikan memangku jabatan Eselon II.a,  dan sudah dilantik Oleh Gubernur Riau sebagai Direktur RSJ Tampan.

Berita pelantikan antara lain dapat dilihat di sini dan di sini.

(Foto: Humas Setda Provinsi Riau)



The Hidden Messages in Water

Daily • June 6, 2008

Pak Azhari sahabat dari sahabat saya Pia R. Ravaie (berarti sahabat saya juga yaa, he…he…) sharing PR Praktikum Kimia (he..he…) melalui email ke saya. Bagi yang hobby praktikum dapat mencobanya, dan jangan lupa menyampaikan hasilnya ke Comment Box pada site ini.


 
The Hidden Messages in Waterhidden_messages_in_water.jpg
Sebaiknya kita semua mulai mengendalikan kata-kata yang keluar dari mulut kita dengan Kata-Kata yang Positif dan Baik.
Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air yang ditulis dalam buku ” The Hidden Messages in Water ” karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan, sayapun tertarik untuk melakukannya sbb:

1. Tempatkan Nasi sisa yg sdh didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat.
2.  Masing-masing toples di tempelin label yg berisi kata-kata sbb:
3. Toples A : ” Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku Sayang Padamu, Aku Senang Sekali Melihatmu, Aku Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih.
4. Toples B : ” Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak mau dekat dekat kamu ”
5. Toples-toples ini saya letakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat, saya pesan pada istri, anak, dan pembantu untuk membaca label pada toples setiap kali melihat toples-toples tersebut.
6. Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 minggu kemudian :
Nasi dalam toples yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap..
Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.
Nah Silahkan teman-teman mencobanya sendiri.Kalau di buku di katakan ada yg mencoba dgn tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa2 alias diabaikan / tidak diperdulikan, dan ternyat beras dlm botol yg diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yg dipapar kata “Kamu Bodoh”.
Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memillih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita.Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.
(Ir.H.Azhari Kamil Harun).



Potret “Sophan Sophian” Kekasih

Movie, Music, and Video • May 23, 2008

sophan_sophian.jpgSophan Sophian, potret  yang ada pada lagu “Potret Kekasih” dalam video di bawah  ini, sekarang telah tiada. Ia meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal di Ngawi Jawa Timur, di saat bangsa Indonesia akan memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional.
Widyawati, pelantun lagu (yang populer dibawakan Diah Iskandar diawal tahun 70-an) ini, yang juga aktris film, pasangan mainnya di film Pengatin Remaja dan beberapa film lainnya, dinikahinya pada tanggal 9 Juli 1972 di Mesjid Al Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Satu teladan dari Sophan Sophian dan juga Widyawati, mereka adalah pasangan yang harmonis. Mereka berdua adalah sama-sama artis, tetapi rumah tangga mereka selalu rukun, tak pernah dilanda badai.
Pasangan yang patut dicontoh



Celebrating 100 Years of National Awakening

Daily • May 20, 2008

Berbagai kegiatan dilakukan dalam rangka memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang jatuh pada hari ini. Salah satunya adalah dimulainya pembangunan Monumen Pemuda Tanah Air pada hari Minggu tanggal 18 Mei lalu di halaman gedung Kementrian Pemuda dan Olahraga, Jakarta. Pada kesempatan tersebut Gubernur Riau H.M. Rusli Zainal mendapat kepercayaan mewakili 33 gubernur seluruh Indonesia untuk menandatangani prasasti Monumen Pemuda Tanah Air Indonesia. Selain itu gubernur juga diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato kebangsaan bersama sejumlah tokoh nasional, seperti Meneg Pora Adhiaksa Dault, selaku tuan rumah sekaligus penggagas pembangunan monumen, Menteri Perikanan dan Kelautan Fredi Numbere, Ketua Mahkamah Kontitusi Jimly Assidiqy.

gubri-harkitnas.jpg 

Dalam pidato kebangsaannya, gubernur mengingatkan kepada seluruh anak bangsa mengenai adanya indikasi perpecahan yang disebabkan menguatnya sifat inklusifme dan mementingkan diri sendiri. Kondisi inilah yang belakangan semakin berbahaya karena selalu disiarkan media massa ke seluruh dunia. “Kalau citra bangsa ini hanya seperti yang dilihat dunia melalui layar 21 inci (televisi.red), maka berbahayalah masa depan bangsa ini. Padahal tidak demikianlah secara umum kondisi bangsa ini,” ujarnya. Karena itu gubernur mengajak seluruh anak bangsa untuk menyadari bahaya itu dengan cara mempererat persatuan dan persaudaraan.

Monumen Pemuda Tanah Air yang dibangun dalam rangka peringatan 100 Kebangkitan Nasional tersebut dilakukan dengan menyatukan tanah dan air dari seluruh provinsi di Indonesia. Penyatuan tanah dan air dari 33 provinsi tersebut diharapkan menjadi titik awal kebangkitan Bangsa Indonesia jilid II. Untuk Provinsi Riau sendiri tanah dan air yang diberi keprcayaan adalah tanah dan air dari kawasan Candi Muara Takus, candi tertua di negeri ini. (Sumber: riauterkini.com).

Walaupun peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh setiap tanggal 20 Mei sudah diperingati sejak tahun 1948, namun sampai saat ini masih terjadi kontroversi di tengah masyarakat, diantaranya dapat kita lihat dari tulisan Rizki Ridyasmara berikut ini.20 Mei Bukan Hari Kebangkitan NasionalKelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).

Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata.Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam kita. Bahkan secara menyedihkan ada sejumlah tokoh Islam dan para Ustadz selebritis yang ikut-ikutan merayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei di berbagai event. Mereka ini sebenarnya telah melakukan sesuatu tanpa memahami esensi di balik hal yang dilakukannya. Rasulullah SAW telah mewajibkan umatnya untuk bersikap: “Ilmu qabla amal” (Ilmu sebelum mengamalkan), yang berarti umat Islam wajib mengetahui duduk-perkara sesuatu hal secara benar sebelum mengerjakannya.

Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka) terhadap kejahiliyahan.Agar kita tidak terperosok berkali-kali ke dalam lubang yang sama, sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekali pun, ada baiknya kita memahami siapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu.Pendukung Penjajahan BelandaAkhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di atas meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat itu, tersembul sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” karya si pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus AN menulis: “Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda Rizki Ridyasmara dari Penulis, Semoga Bermanfaat!” Di bawah tanda tangan beliau tercantum tanggal 20. 2. 2003.KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin terjadi. Selain topik pengkhianatan the founding-fathers bangsa ini yang berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalam Mukadimmah UUD 1945, topik diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.

“BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” tegas KH. Firdaus AN.BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” papar KH. Firdaus AN.Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya… Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.

Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.  Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.Dalam tulisan kedua akan dibahas mengenai organisasi kebangsaan pertama di Indonesia, Syarikat Islam, yang telah berdiri tiga tahun sebelum BO, dan perbandinganya dengan BO, sehingga kita dengan akal yang jernih bisa menilai bahwa Hari Kebangkitan Nasional seharusnya mengacu pada kelahiran SI pada tanggal 16 Oktober 1905, sama sekali bukan 20 Mei 1908.Organisasi Boedhi Oetomo (BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” tulis KH. Firdaus AN.Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan BO—maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:Tujuan:
- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,
- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).
Sifat:
- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,
- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,

Bahasa:
- SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia,
- BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda
Sikap Terhadap Belanda:
- SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda,
- BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda,
Sikap Terhadap Agama:
- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,
- BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)
Perjuangan Kemerdekaan:
- SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,
- BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,
Korban Perjuangan:
- Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,
- Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul,
Kerakyatan:
- SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan,
- BO bersifat feodal dan keningratan,
Melawan Arus:
- SI berjuang melawan arus penjajahan,
- BO menurutkan kemauan arus penjajahan,
Kelahiran:
- SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905,
- BO baru lahir pada 20 Mei 1908,
Seharusnya 16 Oktober

Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal ini.

Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis.Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan “Hari Kebangkitan Nasional”. (Sumber: eramuslim.com).



Do’a Yang Selalu Dikabulkan

Daily • May 14, 2008

helvytr.jpgSahabat saya sesama anggota IOM-ITB (Ikatan Orangtua Mahasiswa ITB), Ibu Ratna Pangemanan, adalah anggota IOM-ITB yang rajin sharing email kepada sesama anggota IOM-ITB, termasuk kepada saya. Hampir semua email yang beliau sharing membuat saya terkesan. Oleh karena itu saya ingin sharing salah satunya, yakni tulisan Helvy Tiana Rosa berupa kumpulan kisah nyata dalam buku yang berjudul “Pelangi Nurani” berikut ini.

DOA YANG SELALU DIKABULKAN
(Helvy Tiana Rosa)

Pagi itu, 3 Mei 1998, dari Jakarta, saya diundang mengisi seminar di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Saya duduk di bangku kedua dari depan sambil menunggu kedatangan pembicara lain, Mimin Aminah, yang belum saya kenal.

miminamnh.jpgJam sembilan tepat, panitia menghampiri saya dan memperkenalkan ia yang baru saja tiba.
Saya segera berdiri menyambut senyumnya yang lebih dulu merekah. Ia seorang yang bertubuh besar, ramah, dalam balutan gamis biru dan jilbab putih yang cukup panjang.
Kami berjabat tangan erat, dan saat itu tegas dalam pandangan saya dua kruk (tongkat penyangga yang dikenakan-nya) serta sepasang kaki lemah dan kecil yang ditutupi kaos kaki putih.
Sesaat batin saya hening, lalu melafazkan kalimat takbir dan tasbih.

Saat acara seminar dimulai, saya mendapat giliran pertama.
Saya bahagia karena para peserta tampak antusias.
Begitu juga ketika giliran Mimin tiba.
Semua memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikannya.
Kata-kata yang dikemukakannya indah dengan retorika yang menarik.
Wawasannya luas, pengamatannya akurat.

Saya tengah memandang wajah dengan pipi merah jambu itu saat Mimin berkata dengan nada datar.
“Saya diuji Allah dengan cacat kaki ini seumur hidup saya.”

Ia tersenyum. “Saya lahir dalam keadaan seperti ini.
Mungkin banyak orang akan pesimis menghadapi keadaan yang demikian, tetapi sejak kecil saya telah memohon sesuatu pada Allah.
Saya berdoa agar saat orang lain melihat saya, tak ada yang diingat dan disebutnya kecuali Allah,” Ia terdiam sesaat dan kembali tersenyum.
“Ya, agar mereka ingat Allah saat menatap saya. Itu saja.”

Dulu tak ada orang yang menyangka bahwa ia akan bisa kuliah. “Saya kuliah di Fakultas Psikologi,” katanya seraya menambahkan bahwa teman-teman pria dan wanita di Universitas Islam Bandung-tempat kuliahnya itu-senantiasa bergantian membantunya menaiki tangga bila kuliah diadakan di lantai dua atau tiga.
Bahkan mereka hafal jam datang serta jam mata kuliah yang diikutinya.
“Di antara mereka ada yang membawakan sebelah tongkat saya, ada yang memapah, ada juga yang menunggu di atas,” kenangnya.

Dan civitas academica yang lain?
Menurut Mimin ia sering mendengar orang menyebut-nyebut nama Allah saat menatapnya.
“Mereka berkata: Ya Allah, bisa juga ya dia kuliah,” senyumnya mengembang lagi.
“Saya bahagia karena mereka menyebut nama Allah.
Bahkan ketika saya berhasil menamatkan kuliah, keluarga, kerabat atau teman kembali memuji Allah. Alhamdulillah, Allah memang Maha Besar. Begitu kata mereka.”

Muslimah bersahaja kelahiran tahun 1966 ini juga berkata bahwa ia tak pernah bermimpi akan ada lelaki yang mau mempersuntingnya.
“Kita tahu, terkadang orang normal pun susah mendapatkan jodoh, apalagi seorang yang cacat seperti saya.
Ya tawakal saja.”

Makanya semua geger, ketika tahun 1993 ada seorang lelaki yang saleh, mapan dan normal melamarnya.
“Dan lagi-lagi saat walimah, saya dengar banyak orang menyebut-nyebut nama Allah dengan takjub. Allah itu Maha Kuasa, ya. Maha Adil! Masya Allah, Alhamdulillah, dan sebagainya,” ujarnya penuh syukur.Saya memandang Mimin dalam.
Menyelami batinnya dengan mata mengembun.

“Lalu saat saya hamil, hampir semua yang bertemu saya, bahkan orang yang tak mengenal saya, menatap takjub seraya lagi-lagi mengagungkan asma Allah.
Ketika saya hamil besar, banyak orang menyarankan agar saya tidak ke bidan, melainkan ke dokter untuk operasi.
Bagaimana pun saat seorang ibu melahirkan otot-otot panggul dan kaki sangat berperan.
Namun saya pasrah. Saya merasa tak ada masalah dan yakin bila Allah berkehendak semua akan menjadi mudah.
Dan Alhamdulillah, saya melahirkan lancar dibantu bidan,” pipi Mimin memerah kembali.
“Semua orang melihat saya dan mereka mengingat Allah. Allahu Akbar, Allah memang Maha Adil, kata mereka berulang-ulang.”

Hening. Ia terdiam agak lama.

Mata saya basah, menyelami batin Mimin.
Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat dangkal dibandingkan nikmatNya selama ini.
Rasa malu menyergap seluruh keberadaan saya. Saya belum apa-apa.
Yang selama ini telah saya lakukan bukanlah apa-apa.

Astaghfirullah. Tiba-tiba saya ingin segera turun dari tempat saya duduk sebagai pembicara sekarang, dan pertamakalinya selama hidup saya, saya menahan airmata di atas podium. Bisakah orang ingat pada Allah saat memandang saya, seperti saat mereka memandang Mimin?

Saat seminar usai dan Mimin dibantu turun dari panggung, pandangan saya masih kabur. Juga saat seorang (dari dua) anaknya menghambur ke pelukannya. Wajah teduh Mimin tersenyum bahagia, sementara telapak tangan kanannya berusaha membelai kepala si anak.
Tiba-tiba saya seperti melihat anak saya, yang selalu bisa saya gendong kapan saya suka.
Ya, Allah betapa banyak kenikmatan yang Kau berikan padaku.

Ketika Mimin pamit seraya merangkul saya dengan erat dan berkata betapa dia mencintai saya karena Allah, seperti ada suara menggema di seluruh rongga jiwa saya.
“Subhanallah, Maha besar Engkau ya Robbi, yang telah memberi pelajaran pada saya dari pertemuan dengan hambaMu ini. Kekalkanlah persaudaraan kami di Sabilillah. Selamanya. Amin.”

Mimin benar.
Memandangnya, saya pun ingat padaNya.
Dan cinta saya pada Sang Pencipta,
yang menjadikan saya sebagaimana adanya, semakin mengkristal.

(”Pelangi Nurani”: Penerbit Asy Syaamil, 2002)




Happy Mother’s Day

Daily • May 11, 2008

Saya punya pengetahuan bahwa hari ini (11 Mei) di dunia belahan barat sana di peringati sebagai Hari Ibu atau Mother’s Day. Tapi saya tidak punya referensi tentang “makna” Hari Ibu yang diperingati di sana. So, saya copy-paste saja dari blog sahabat saya Tina (Zeventina) di Ulm Jerman seperti di bawah ini, yang originalnya dapat dilihat di sini. Untuk Ibu-Ibu di dunia belahan barat yang masih mengerti bahasa Indonesia, saya ucapkan “Selamat Hari Ibu”, kalau tidak mengerti yaa… “Happy Mother’s Day” he…he…

Happy Mother’s Day

zeventina.gifHari Ibu bermula pada awal abad lalu. USA yang pertama menetapkan 11 May sebagai Hari Ibu. Negara lain seperti Jerman, Australia, Canada, New Zeeland dan banyak negara Eropa lain seperti Belanda, Prancis dll ikut merayakan apa yang dinamakan “Mother’s Day” (kadang-kadang juga dieja Mothers’ Day - anda lihat nggak beda antara keduanya?).

Pada Hari Ibu, shopping centers berminggu-minggu sebelumnya telah menjajakan barang apa saja, alat dapur, eletronik, alat rias, coklat dan souvenir2 sebagai “specials” untuk hadiah para Ibu.

Perayaan ini terjadi di dalam kerangka rumah tangga, bukan tingkat nasional seperti Hari Pahlawan atau kemerdekaan.

Pada Hari Ibu, perlakuan terhadap Ibu diistimewakan, Ibu di manja sehari, ga boleh kerja, kerjaan rumah di gantikan oleh ayah dan anak2. Ibu istirahat saja menikmati hidup dengan banjir hadiah.

Kenapa? Karena orang bule rata2 ga punya pembantu, so Ibu2 disini berat kerjaan rumahnya dilakukan sendiri, maka wajar jika dalam setiap tahun ada satu hari yang dikhususkan untuk menghargai jasa2 Ibu selama setahun penuh.

Happy Mother’s Day to all Mothers in the World!



footer